BAHASA YANG ANDA INGINKAN

Showing posts with label Akhlaq. Show all posts
Showing posts with label Akhlaq. Show all posts

DERITA

Derita Bisa Jadi Nikmat

Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,
Di antara sempurnanya nikmat Allah pada para hamba-Nya yang beriman, Dia menurunkan pada mereka kesulitan dan derita. Disebabkan derita ini mereka pun mentauhidkan-Nya (hanya berharap kemudahan pada Allah, pen). Mereka pun banyak berdo’a kepada-Nya dengan berbuat ikhlas. Mereka pun tidak berharap kecuali kepada-Nya. Di kala sulit tersebut, hati mereka pun selalu bergantung pada-Nya, tidak beralih pada selain-Nya. Akhirnya mereka bertawakkal dan kembali pada-Nya dan merasakan manisnya iman. Mereka pun merasakan begitu nikmatnya iman dan merasa berharganya terlepas dari syirik (karena mereka tidak memohon pada selain Allah). Inilah sebesar-besarnya nikmat atas mereka. Nikmat ini terasa lebih luar biasa dibandingkan dengan nikmat hilangnya sakit, hilangnya rasa takut, hilangnya kekeringan yang menimpa, atau karena datangnya kemudahan atau hilangnya kesulitan dalam kehidupan. Karena nikmat badan dan nikmat dunia lainnya bisa didapati orang kafir dan bisa pula didapati oleh orang mukmin. (Majmu’ Al Fatawa, Ibnu Taimiyah, Darul Wafa’, 10/333)
***

Begitu sejuk mendengar kata indah dari Ibnu Taimiyah ini. Akibat derita, akibat musibah, akibat kesulitan, kita pun merasa dekat dengan Allah dan ingin kembali pada-Nya. Jadi tidak selamanya derita adalah derita. Derita itu bisa jadi nikmat sebagaimana yang beliau jelaskan. Derita bisa bertambah derita jika seseorang malah mengeluh dan jadikan makhluk sebagai tempat mengeluh derita. Hanya kepada Allah seharusnya kita berharap kemudahan dan lepas dari berbagai kesulitan.

Nikmat ketika kita kembali kepada Allah dan bertawakkal pada-Nya serta banyak memohon pada-Nya, ini terasa lebih nikmat dari hilangnya derita dunia yang ada. Karena kembali pada Allah dan tawakkal pada-Nya hanyalah nikmat yang dimiliki insan yang beriman dan tidak didapati para orang yang kafir. Sedangkan nikmat hilangnya sakit dan derita lainnya, itu bisa kita dapati pada orang kafir dan orang beriman.
Ingatlah baik-baik nasehat indah ini. Semoga kita bisa terus bersabar dan bersabar. Sabar itu tidak ada batasnya. Karena Allah Ta’ala janjikan,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang bersabar, ganjaran bagi mereka adalah tanpa hisab (tak terhingga).” (QS. Az Zumar: 10). Al Auza’i mengatakan bahwa ganjarannya tidak bisa ditakar dan ditimbang. Ibnu Juraij mengatakan bahwa pahala bagi orang yang bersabar tidak bisa dihitung sama sekali, akan tetapi ia akan diberi tambahan dari itu. Maksudnya, pahala mereka tak terhingga. Sedangkan As Sudi mengatakan bahwa balasan bagi orang yang bersabar adalah surga.
Semoga yang singkat ini bermanfaat. Alhamdulillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihaat.

16 Dzulqo’dah 1431 H (24/10/2010), KSU, Riyadh, KSA

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel www.muslim.or.id
READ MORE » DERITA

SABAR

SABAR

Bissmillah wal hamdulillah, dizaman sekarang ini dimana teknologi telah berkembang kondisi semakin menglobal apakah yang kita perlukan agar kita dapat bertahan di kota dan tetap mendapatkan keselamatan baik dunia maupun akhirat.
Dimana banyak kita berbuat semau kita dengan landasan HAM, menjadikan HAM sebagai penghalal semua perbuatan.
................................................................................
Mungkin salah satu hal yang kita perlukan adalah sabar, dan berikut ini uraian tentang sabar yang saya ambil dari terjemah kitab ushuk tsalatsah yang disyarah oleh Syeikh Utsaimin -semoga bermanfaat-. dan akhirnya kita hanya memohon kepada Allah Ta'ala agar kita diberikan kesabaran.
________________________________________________________________________________

SABAR


Sabar adalah menahan jiwa (nafsu) untuk tetap berada di atas ketaatan kepada Allah, menahannya dari bermaksiat pada-Nya, dan menahan diri dari keluh kesah terhadap taqdir Allah, sehingga ia menahan jiwanya dari perasaan marah, jengkel dan bosan. Senatiasa dalam keadaan semangat,berdakwah, menyeru manusia untuk masuk kedalam agama Allah, meskipun ia disakiti. Karena mengganggu para da’i yang meneru pada kebaikan sudah menjadi watak dan tabiat setiap orang kecuali orang yang diberi petunjk oleh Allah. Allah berfirman pada Nabi-Nya:

34. Dan Sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Allah kepada mereka. tak ada seorangpun yang dapat merobah kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. dan Sesungguhnya telah datang kepadamu sebahagian dari berita Rasul-rasul itu.

Semakin kut gangguan, semakin dekat pertolonagan. Pertolongan itu tidak khusus tatkala seseorang masih hidup dan melihat jerih payah dari dakwahnya saja, akan tetapi pertolongan itu datang tatkala ia sudah meninggal, yakni dengan caraa Allah menjadikan hati manusia tunduk ma menerima apa yang ia dakwahkan, mau mengambil dan berpegang denganya. Hal seperti itu termasuk pertolongan bagiiny meskipun ia telah mati. Maka dari itu,sudah selayaknya bagi para da’I bersabarmenhadapi rintangan – rintangan yang menghalangi dakwahnya, sabar menghadapi gangguan gangguan yang menyakitinya. Inilah para Rasul disakiti oleh kaumnya dengan perkataan dan perbuatan. Allah berfirman:

52. Demikianlah tidak seorang Rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: "Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila."(Adz Dzariyat :52)

Dan Allah berfirman :

31. Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap Nabi, musuh dari orang-orang yang berdosa. dan cukuplah Tuhanmu menjadi pemberi petunjuk dan penolong. (Al Furqan :31)

Akan tetapi sudah selayaknya bagi seorang da’I untuk bersabar menerima gangguan tersebut. Dan perhatikanlah Firman Allah pada Rasul-Nya berikut ini :

23. Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al Quran kepadamu (hai Muhammad) dengan berangsur-angsur. ( Al Insan : 23)
Orang yang memperhatikan ayat tersebut ia akan menerka bahwa kelanjutan ayat tersebut adalah : ( Maka bersyukurlah atas nikmat Rabbmu ), namun (lihatlah) ternyata Allah berfirman melanjutkan ayat tersebut dengan :

24. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antar mereka. (Al Insan :24)

Hal ini terkandung di dalamnya bahwa setiap orang yang bangkit, berdakwah dengan Al- Qur’an mau tidak mau akan menerima dan menghadapi segala sesuatu yang membutuhkan kesabaran. Lihatlah! Keadaan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika dilempari oleh kaumnya sampai berdarah dari wajahnya seraya berdoa :
اللهم اغفر لقومي فإنهم لا يعلمون

“Ya Allah ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui”. ( H.R. Bhukhari )

Maka sudah selayaknya para da’I untuk senantiasa bersabar dan mengharap pahala dari Allah.
Sabar dibagi menjadi tiga:
1. Sabar diatas ketaatan pada Allah.
2. Sabar dalam menjauhi hal – hal yang diharamkan oleh Allah.
3. Sabar ketika menerima taqdir Allah yang menyakitkan, baik yang Allah timpakan langsung kepadanya ataupun yang Allah timpakan padanya melalui tangan – tangan sebagian hamba-Nya yang berupa gangguan dan permusuhan.


Dari Terjemah Syarah Tiga Landasan Utama Syeikh Utsaimin
READ MORE » SABAR